[STORY] | KEBENARAN | (ONESHOT)
KEBENARAN
Cahaya menyilaukan
dari lampu rumah sakit yang pertama kali kulihat saat membuka mataku. Aku mencoba
duduk sambil menyesuaikaan pandanganku walaupun masih sedikit kabur. Aku
melihat sekeliling. Aku tidak ingat kenapa aku bisa ada di sini. Tak ada
seorang pun yang menungguiku.
Aku tururn dari
ranjang dan ingin keluar dari ruangan. Aku membuka pintu perlahan dan mengintip
sedikit sambil menoleh ke kiri dan kanan. Di lorong sebelah kanan aku melihat
ada paman dengan bibiku. Mereka sedang berbicara dengan dokter, sepertinya
serius. Aku mencoba mendekati agar bisa mendengar pembicaraan mereka. Aku tau
ini tidak sopan, tapi aku butuh informasi.
“Sepertinya
kecelakaannya begitu parah. Kami sudah melakukan apapun yang kami bisa, tetapi
nyawanya memang sudah tak tertolong. Kami mohon maaf. Permisi.”
Setelah itu,
dokter pergi meninggalkan mereka berdua. Aku hanya mendengar sebagian dari pembicaraan
mereka. Dokter itu bilang kecelakaan. Apa aku mengalami kecelakaan? Aku pergi
bersama Ayah dan Ibu, bagaimana dengan mereka? Paman dan Bibiku terlihat sangat
sedih. Siapa yang mereka maksud tak tertolong? Mungkinkah itu-?! Aku bergegas
menuju pintu keluar. Aku ingin memastikan yang sebenarnya terjadi. Aku ingin
pulang.
Sampai di luar langit
terlihat gelap, sepertinya ini tengah
malam. Aku berlari dari rumah sakit itu. Jaraknya tak jauh dari rumahku. Hanya sekitar
500 meter jaraknya. Saat berlari, aku merasa tubuhku lebih ringan dan semakin
cepat. Aku pikir ini mungkin karena adrenalin yang terpacu. Ketika sampai aku
langsung menggedor pintu danmemanggil ayah dan ibu. Aku berharap mereka baik-baik
saja.
“Ayah! Ibu! Apa
kalian di dalam?!”
Sambil terus
menggedor. Namun tak ada jawaban. Aku meraih gagang pintu dan memutarnya.
“Terkunci? Jadi benar
Ayah dan Ibu...”
Perasaanku mulai
tidak enak. Aku kembali kerumah sakit untuk mencari ayah dan ibu. sebagian dari
diriku masih belum percaya. Ketika aku kembali ke rumah sakit dan masuk ke
kamarku aku melihat dua sosok transparan
yang menunggu di sisi tempat tidur yang sebelumnya aku tiduri. Posisi mereka
membelakangi pintu masuk dan saat kupanggil mereka berbalik.
“A-Ayah? Ibu?”
Benar saja. Mereka
berdua adalah ayah dan ibuku. Aku lega, tetapi kenapa mereka transparan? Di sini
aku mencoba tenang dan berpikir positif.
“Dimana Paman dan
Bibi?”
Sambil sedikit
cengengesan aku basabasi menanyakan hal yang basi. Namun mereka hanya tersenyum
halus kepadaku. Itu sangat awkward bagiku.
Dari lorong aku
mendengar suara langkah kaki dan percakapan dua orang. Dua orang itu adalah
paman dan bibiku. Mereka masih bersedih dan menahan tangis. Entah siapa yang
mereka tangisi, tapi aku ingin menghibur mereka. Aku memanggil Paman dan Bibiku,
tapi mereka tak merespon. Aku mendatangi dan berdiri di hadapan mereka. Namun aku
terkejut karena mereka melewatiku begitu saja. Bukan terkejut karena mereka
mengabaikanku, tapi karena mereka menembus melewatiku. Aku terdiam dan mencoba menelaah.
“Kenapa bisa
menembusku? Jangan-jangan mereka berdua sudah...”
“Tidak, nak.”
Ketika aku
berbicara sendiri ayah memotong perkataanku dengan tiba tiba. Aku yang
kebingungan mencoba mencari kejelasan dari ayahku.
“Apanya, ayah?
“Mereka tidak
mati. Mereka masih hidup dan baik-baik saja.” Sambil menghampiriku.
Suasana menjadi
hening seketika. Aku mulai paham sekarang tapi sedikit tidak percaya dan ingin
kembali memastikan. Sambil gemetar dan menahan tangis aku bertanya lagi pada
Ayah.
“J-Jadi?”
“Seperti yang kau
pikirkan sekarang, nak. Kitalah yang mati. Kita berada di mobil itu saat
kejadian ingat?”
Ah. Aku mengingat
semuanya. Mobil yang kami kendarai terpental, dan terguling hingga terbalik
ketika dihantam mobil trailer dari arah berlawanan di jalan menanjak. Aku ingin
menangis, tetapi air mata tak bisa keluar. Oh iya, aku sudah mati. Pantas saja
saat aku berlari terasa lebih ringan dan cepat, itu lebih tepatnya aku
melayang. Kenyataan yang pahit memang.
Semua sudah
terjadi. Menyisakan penyesalan dan kekesalan. Semua yang hidup pasti mati. Kini
giliranku. Aku mencoba menerima dan ikut dengan Ayah dan Ibu ke alam lain.
Selamat tinggal dunia. [TAMAT]



Komentar
Posting Komentar